Home » » Pendakian Gunung Arjuna dan Welirang, Berikut Tips dan Info Lengkapnya

Pendakian Gunung Arjuna dan Welirang, Berikut Tips dan Info Lengkapnya


Kalau ditanya hal apa yang memotivasi saya untuk mendaki gunung Arjuna ini? Tentu saya akan menjawab nama gunungnya yang sangat keren.
Yaa, gunung Arjuna diambil dari tokoh dalam dunia kwayangan yang menggambarkan sosok ksatria yang rupawan, tangkas dan pemberani.

Karena saat mendaki gunung ini istri saya sedang hamil tua, berharap jika nanti anak saya lahir laki-laki akan saya beri nama Arjuna. Istilahnya kerennya pendakian menjemput nama. Hahaa...

Tapi ternyata oh ternyata, Tuhan berkehendak lain, anak saya terlahir perempuan. Sekejap terlupalah nama Arjuna. Dan saya rasa nama yang cocok untuk anak secantik dan seimut anak saya ini adalah Sabina Fitria Rinjani. Hehee...

Oke, kembali ke topik.
Gunung Arjuno (3.339 mdpl) adalah gunung api tua dan sudah tidak aktif, Sedangkan Gunung Welirang (3.156mdpl), masih ada aktifitas yang ditunjukkan dengan adanya kawah belerang. Gunung Arjuno dan Gunung Welirang terletak pada satu gunung yang sama dan terletak dalam satu rangkaian dengan Gunung Anjasmoro dan Gunung Ringgit. Pada lembah-lembah diantaranya, terutama di lereng Gunung Arjuno dan Ringgit, terdapat puluhan peninggalan purbakala yang berserakan dan belum ditangani secara tuntas. Sebagian tertutup semak-belukar.

Menurut informasi, Ada empat jalur yang bisa ditempuh menuju puncak gunung Arjuno dan gunung Welirang yakni sebagai berikut:
1. Jalur Tretes
2. Jalur Lawang
3. Jalur Purwosari
4. Jalur Batu
Tp saya disini hanya ingin mengulas tentang jalur Tretes saja, karena jalur lain saya belum pernah mencoba.

JALUR TRETES

Jalur Tretes-Welirang
Jika dari Jakarta atau sekitarnya, sebaiknya kita naik kereta jurusan malang, dari malang kita naik bis jurusan Surabaya atau sebaliknya, turun di Pandaan dan ganti minibus ke jurusan Tretes.
Sebenarnya bisa juga naik bus jurusan surabaya atau Malang, tapi menurut saya menggunakan jasa kereta api adalah pilihan yg terbaik karena selain nyaman, harganya pun masih tidak terpaut jauh.

Naik minibus menuju Tretes

Tretes merupakan tempat Wisata dan Hutan Wisata yang sangat terkenal di daerah ini. Terdapat juga air terjun yang indah yaitu Air terjun Kakek Bodo. Dan terus terang saya sendiri belum pernah menyaksikan keindahannya, karena pada waktu pendakian kemaren waktu sangat tidak memungkinkan.

Di Tretes banyak tersedia hotel maupun Losmen, hawanya sejuk dan merupakan tempat peristirahatan yang nyaman. Saya sendiri menginap di salah satu losmen tepat disamping hotel Tanjung di sebrang basecamp. Untuk satu malam dikenakan tarif Rp 100.000,- tempatnya luas termasuk 2 kamar.

Pos pendakian gunung Arjuna-Welirang di Tretes

Dari Pos pendaftaran kita berjalan mengikuti jalan aspal sekitar 200 meter kita akan sampai di pintu masuk Taman Wisata Air Terjun Kakek Bodo yang berada di belakang hotel Surya. Dari pintu masuk ini jalanan sudah di semen hingga Pos Pet Bocor atau Air Terjun.

Berjalan sekitar 200 meter kita akan bertemu dengan percabangan yang ke kanan menuju Bumi Perkemahan dan Air Terjun Kakek Bodo. Sedangkan ke kiri (lurus) menuju Pet Bocor arah menuju puncak Gunung Welirang.
Hingga Pet Bocor jalur masih rapi disemen dengan kemiringan yang sangat tajam, ini membantu untuk awal perjalanan tapi lama-lama akan terasa monoton dan membosankan. Dalam perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan yg sejuk karena kiri kanan jalan masih berupa pohon-pohon besar.

Setelah berjalan sekitar satu jam lebih sampailah kita di Pos Pet Bocor. Di Pet Bocor terdapat tempat yang sangat luas untuk membuka beberapa tenda. Terdapat pula sumber air yang berasal dari pipa-pipa saluran air yang bocor. Pada hari-hari libur terdapat warung makanan.

Jalur dari pos pendakian ke pos Pet Bocor, jalan disemen rata

Dari Pet Bocor perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalanan berbatu yang sudah rusak. Jalur sangat lebar karena biasa dilewati mobil pengangkut belerang, hingga Pos Kokopan.

Dijalur ini kondisi lahan sangat jarang ada pepohonan besar, hanya ditumbuhi ilalang dan semak belukar, dan sebagian ditanami pohon pisang oleh penduduk untuk menangkal ilalang tumbuh, jadi di siang hari jalur akan terasa sangat panas dan berdebu, sehingga sebaiknya pendakian dilakukan di sore, malam, atau pagi hari.

Jalur mobil jeep pengangkut belerang

Setelah berjalan sekitar 4 jam lebih pendaki akan sampai di Pos Kokopan. Oiya sebelumnya saya browsing mencari info di internet didapat informasi, katanya dari pet bocor ke Kokopan cuma 1 jam tapi nyatanya lebih dari 4 jam pendakian, ini infonya yang salah atau tenaga saya yang memang sudah manula? Hehehee...

Pos Kokopan berada diketinggian 1500mdpl, disini terdapat pondok-pondok yang didirikan oleh para penambang Belerang. Terdapat pula sungai kecil yang airnya cukup melimpah. Tapi sekedar saran, menurut pengalama saya sebaiknya jika mau mengambil air untuk keperluan masak, ambilah air yg berasal dari pipa yg bocor yang terdapat di kanan aliran sungai, karena air dari sungai berbau sabun, mungkin banyak dari pendaki yang tidak bertanggung jawab yang menggunakan sabun untuk cuci atau mandi di area yang sebenarnya tidak diperbolehkan.

Di sini terdapat pula warung makanan yang hanya buka pada hari-hari libur. Kawasan ini bisa menampung cukup banyak tenda dan dikelilingi pohon-pohon cemara. Nyaman untuk menginap karena cukup terlindung dari hembusan angin.

Ngecamp di pos Kokopan


Kokopan ke Pondok Welirang

Dari Pos Kokopan perjalanan dilanjutkan menuju Pos Pondokan. Terdapat banyak jalur untuk menuju pondokan. Jalur yang sering digunakan para pendaki adalah jalur utama yang berupa punggungan gunung yang lurus. Jalur berupa jalan berbatu yaitu jalur mobil pengangkut belerang, jika melewati jalur setapak ditakutkan tersesat dan banyak kotoran orang yang buang hajat tidak bertanggung jawab di tengah jalur, walau jalur itu termasuk jalur potongan yg relatif lebih pendek dibanding mengikuti jalur mobil yg berkelok-kelok mengikuti punggungan. Sekali lagi, saya sarankan untuk mengikuti jalur utama.

Jalur utama, dari Pos Kokopan menuju Pos Pondokan, nampak banyak pohon bekas kebakaran

Keadaan alam disekitar jalur ini lumayan teduh, karena makin mendekati pos Pondokan pohon-pohon besar semakin banyak. Dan burung-burung semakin banyak bersliweran dan berkicau, banyak juga hewan-hewan lain seperti musang, tupai banyak yang menyebutkan di daerah ini masih banyak rusa, tapi sepanjang saya mendaki tidak melihatnya, cuma sebangsa musang saja yg banyak berkeliaran di belukar.

Mendekati pos Pondokan, jalur semakin adem, karena banyak pohon-pohon besar disekitar jalur

Waktu yang dibutuhkan dari pos Kokopan ke pos Pondokan sekitar 6 jam, karena perjalanan kami sangatlah pelan, dan dijalan sempat tidur selama 1 jam lebih. Dan kami putuskan untuk membuka tenda disini karena disini tempat paling strategis untuk bertenda, disini percabangan antara dua jalur, ke kanan ke arah puncak Welirang dan ke kiri ke puncak Arjuna.

Pos Pondokan, banyak pondok-pondok yang dibangun oleh penambang belerang untuk singgah dan mengumpulkan belerang

Berfoto bersama di pos Pondokan

Pos Pondokan ini berupa tanah terbuka yang cukup luas dengan ketinggian berkisar 2250 mdpl. Dinamai pos Pondokan karena terdapat pondok-pondok sederhana yang dibangun oleh para penambang Belerang.

Di sebelahnya terdapat sungai dengan debit air yang sangat kecil. Sumber air berupa bak penampungan yang dialiri air dari pipa-pipa yang berasal dari rembesan air sungai. Tapi keadaan sungai ini sangat memperihatinkan, banyak sampah dan kotoran, lagi-lagi banyak pendaki yang tidak bertanggung jawab yang membuang hajat sembarangan.

Untuk mengambil air, sebaiknya diambil langsung dari pipa-pipa kecil, karena air yang ada dibawah sudah tercemari dan sangat tidak layak minum. Menurut pengalaman saya selama mendaki, gunung ini termasuk gunung yang terkotor, karena sepanjang jalurnya dicemari oleh para pendaki sendiri, dimana-mana banyak kotoran, mungkin karena tidak ada MCK-nya atau mungkin juga karena gunung ini dekat dengan kota besar seperti Malang, Surabaya, Pasuruan sehingga banyak anak-anak alay yang mendaki atau cuma ngecamp yang sama sekali tidak tau etika pendakian, saat BAB yg tidak tau tentang sistem gali lobang tutup lobang, dan membuang pun sampah sembarangan.

Di pos ini pendaki biasanya bermalam untuk mempersiapkan diri melanjutkan pendakian ke puncak gunung Welirang atau menuju gunung Arjuna.
Persediaan air minum disiapkan dari Pos Pondokan ini.

Menuju Puncak Gunung Welirang.

Jalur dari pos Pondokan menuju puncak Welirang terdapat banyak jalur pintas, jalur utama berupa Jalur penambang tidak terlalu terjal tetapi memutar melipir sisi sebelah kanan. Jalurnya agak lebar sekitar 2 meter yang biasa dilewati gerobak oleh para penambang belerang.

Setelah berjalan sekitar 1jam keadaan jalan masih berupa tanah dan landai sedikit menanjak, banyak pepohonan besar jadi perjalanan lebih adem, tapi setelah berjalan sekitar 2 jam dari pondokan jalur mulai terjal penuh bebatuan dan curam, pohon-pohon khas ketinggian seperti pohon edelweis sudah mulai banyak disisi kiri kanan jalur.

Menjelang Puncak Gunung welirang jalur terbagi menjadi dua. Jalur penambang lurus menuju kawah di mana para penambang mengambil belerang. Jalur pendaki ke arah kanan melintasi punggungan yang sangat curam dan berbatu-batu.

Jalur gerobak penambang, disisi kiri terdapat jurang yang curam, jadi harus lebih hati-hati

Di kawasan Puncak Gunung Welirang pemandangannya sangat luar biasa indahnya.
Pendaki bisa berkeliling mengelilingi kawah untuk pendaki beberapa puncak-puncak kecil. Bila cuaca bersih kita bisa memandang puncak gunung Arjuna dengan detail yang sangat jelas, gunung Penanggungan juga jelas terlihat sangat dekat, dan juga gunung Anjasmoro terlihat sangat indah terlihat hutan yang lebat dan pegunungan berlapis-lapis. Kota Malang juga terlihat lebih detail dan jelas.

Karena kami sampai puncak tepat jam 03.30wib jadi kami putuskan untuk berlindung dibawah tebing untuk menghindari dingin, dan setelah mulai ada tanda-tanda sunrise kami mendaki lagi kepuncak

Dibawah bebatuan ini semalem dari pukul 03.30wib kami berlindung dari hawa dingin

Di puncak Welirang terdapat banyak puncakan dan juga banyak kawah yang masih aktif. Kawah yang paling besar dan dalam adalah Kawah Jero, di sebelahnya adalah Kawah Plupuh. Tebing-tebing di sekitar puncak menghembuskan asap belerang. Beberapa lubang di tebing juga mengeluarkan cairan belerang yang berwarna keemasan.

Asap belerang yang pekat bila berhembus mengenai mata bisa menyebabkan mata bengkak untuk itu segera cuci mata dengan air bersih. Bila terhirup dalam waktu yang cukup lama maka bisa menyebabkan pening dan pingsan. Untuk itu bila asap tebal belerang sedang menyelimuti puncak sebaiknya tidak mendekatinya. Batu-batu di sekitar puncak juga tersa panas bila dipegang atau diduduki.

Terdapat Gua Sriti yang cukup luas di dekat Puncak gunung Welirang.
Jika kita mendaki pas hari kerja, kita dapat menyaksikan para pekerja sedang menambang belerang disekitar puncak.

Perjalanan dari Pondokan ke puncak Welirang dibutuhkan waktu sekitar 3 jam, entah kami yang berjalan begitu cepat atau petunjuk yang kurang akurat di peta. Karena dipeta tertera 5 jam pendakian dari Pondokan.

Dan perjalanan turun melalui jalur yang sebelumnya dan hanya memakan waktu kurang dari 2 jam.
Dan pendakian dari Pondokan ke Welirang sebaiknya dilakukan di malam hari agar kita bisa menyaksikan sunrise di puncak welirang. Dan sebaiknya semua perbekalan ditinggal di tenda agar pendakian terasa lebih ringan, hanya membawa makanan dan perlengkapan yg diperlukan seperti senter, jaket tebal dan jas hujan.

Bendera Batik Binzah berkibat di puncak gunung Welirang 

Kawah selatan, dengan background gugusan gunung Anjasmoro yang terkesan berlapis-lapis

Kawah lama, jika kita hendak turun berada disisi kiri jalan, walau termasuk kawah tua tapi masih aktif menghembuskan asap belerang

Gunung Arjuna dilihat dari puncak Welirang,
Dengan background gunung Semeru.

Gunung Anjasmoro nampak berlapis-lapis

Gunung Kawi nampak dari puncak gn. Welirang di sebelah selatan

Perjalanan turun, nampak puncak gn. Welirang yg gersang dan trek bebatuan cadas.


Menuju puncak Gunung Arjuna

Untuk ke puncak Arjuna, dari pos Pondokan harus mengambil ke arah kiri, setelah berjalan sekitar 20 menit kita akan sampai di pos Lembah Kidang, jalur pendakian dari Pondokan ke Lembah Kidang sudah tidak berupa jalur batu lagi namun jalur tanah.

Lembah Kidang bisa menampung puluhan tenda ukuran sedang. Disini juga terdapat sumber air bersih yang cukup berlimpah, disebelah kanan jalur gemercik dari tebing setinggi 2 meter yg di kelilingi rimbun pepohonan semak. Disini tempat yang tepat untuk bertenda, dari sini pemandangan sangat indah karena terdapat hamparan sabana luas penuh rerumputan hijau dikelilingi pohon cemara. Konon dahulunya lembah ini banyak disinggahi hewan rusa atau bahasa jawanya kidang.

Pesona Lembah Kidang

Dari pos Lembah Kidang kita juga bisa mendirikan tenda ke Pos Sabana 2, yang jaraknya hanya 10 menit perjalanan. Disini merupakan tempat ngecamp terakhir sebelum summit attack ke puncak Arjuno. Karena disini tempat mata air terakhir, karena menuju puncak Arjuna tidak ada mata air lagi.

Deretan puncak gunung Arjuna terlihat dari pos Sabana 2

Karena kami dari puncak Welirang dan masih butuh istirahat, kami hanya pindah tenda dari pos Kokopan ke pos Lembah Kidang dan akhirnya kami putuskan istirahat dan bertenda di sini, karena disini sumber air cenderung lebih bersih, dan dengan asumsi nanti malam kami bisa mulai mendaki dan mengejar sunrise di puncak Ogal-agil.

Trek dari pos Sabana 2 ke puncak sebelum tanjakan memang landai, tapi jalurnya tidak begitu ketara dan banyak percabangan, hal inilah yang membuat pendaki mudah tersesat, apalagi jika pendakian malam hari, jadi harus lebih waspada dan hati-hati

Dari pos Lembah Kidang ke Puncak Ogal-Agil, jalur awalnya berupa sabana dengan trek agak landai. Vegetasi disini diisi oleh semak belukar yang tinggi sedada orang dewasa dan jarang pohon besarnya.

Karena kami mulai mendaki malam, kami sempat tersesat disini agak lama dan hampir memutuskan untuk kembali ke tenda, tapi setelah istirahat sejenak dan diskusi akhirnya kami putuskan untuk meneruskan dengan orientasi medan, dan akhirnya ketemu dengan jalur utama tepat sebelum jalur menanjak.

Trek selanjutnya adalah jalur tanah dengan trek sangat menanjak mirip trek menuju Arcopodo, Gunung Semeru .

Sepanjang jalur pendakian gn. Arjuna nampak jelas gugusan gn. Welirang

Gunung Anjasmoro juga terlihat indah dari jalur pendakian gunung Arjuna

Setelah melewati tanjakan-tanjakan yang sangat terjal, jalur pendakian berubah agak landai dengan rerumputan di sebelah kanan dan kiri.

Mendekati puncak, jalur berubah menjadi menanjak lagi, banyak tanjakan-tanjakan php disini. Seakan sudah hampir sampai puncak tapi ternyata masih jauh juga. Setelah melewati tanjakan terakhir, (yang menurut ini adalah puncak dan ternyata belum) pendaki harus melewati dua bukit lagi untuk menuju Puncak Ogal-Agil, puncak tertinggi Gunung Arjuno.

Butuh waktu sekitar 6 jam lebih untuk menuju puncak Gunung Arjuno dari pos Lembah Kidang.
Dan butuh waktu sekitar 3 jam untuk turun lewat jalur yang sama.

Bendera Batik Binzah berkibar di puncak Ogal-Agil gunung Arjuna 

Salah satu anggota team Batik Binzah berdiri di puncak Ogal-agi


Tanpa bermaksud menyalahkan akurasi peta yang beredar di internet, hanya membandingkan dengan real pendakian kami.

Dipeta dari pos Tretes ke Kokopan 2 jam tapi real pendakian kami 4 jam lebih.
Dipeta dari pos Kokopan ke pos Pondokan 4 jam.
Tapi real pendakian kami 5 jam.
Dipeta dari pos Pondokan ke puncak 5 jam
Tapi real pendakian kami cuma 3 jam.
Sementara dari Lembah Kidang  ke puncak Arjuna di peta tertera 4 jam,
Tapi real pendakian kami sekitar 6 jam.

Berikut saya lampirkan perbandingan petanya:

Peta yang banyak beredar di internet 

Peta real perjalanan kami


Tips dan info lengkapnya 
• gunung Arjuna Welirang salah satu gunung yang berada di Jawa Timur, namun masih kalah populer dengan gunung Semeru ataupun Bromo. Otomatis jalur pendakian ke gunung Arjuna relatif sepi karena pendaki dari luar provinsi akan lebih fokus ke Semeru dikarenakan biaya perjalanan yang relatif sama tetapi sensasinya jauh berbeda. Jadi jika hendak ke Semeru tapi quota penuh, atau pas kebetulan pendakian ditutup, mendaki ke gunung Arjuna Welirang  adalah solusi yang tepat. Karena pendakian gunung Arjuna-Welirang ini selalu buka sepanjang tahun.
• di daerah basecamp termasuk area wisata, disini selalu ramai oleh pengunjung non pendaki, dan kalau malam hari juga sangat ramai, banyak kedai-kedai kopi lesehan yang ramai oleh muda-mudi untuk bersantai, jadi nongkrong disini sebelum atau sesudah pendakian kita akan punya kesan tersendiri.
• di sekitar jadi basecamp juga terdapat pasar, jadi untuk masalah logistik kita bisa belanja di pasar ini. Disini juga banyak minimarket dan mesin atm, jadi masalah uang cash jangan kuatir.
• jalur pendakian ke Arjuna Welirang sebagian besar terdiri jalan berbatu yang cukup lebar (karena memang jalur mobil angkut belerang) otomatis tidak membingungkan, cukup ikuti jalan tersebut Insya'Allah kita tidak akan tersesat. Namun kekurangannya kaki kita akan mudah lelah karena pijakan yang monoton.
• jalan berbatu cenderung tidak berdebu, namun saat terik siang hari cuaca akan terasa lebih panas karena pantulan hawa panas dari bebatuan, ditambah vegetasi sepanjang jalan cenderung terbuka, hanya ilalang dan semak belukar. Solusinya jangan lupa pakai pakaian yang  tertutup, topi, masker dan pakai loution pelembab.
• di setiap pos banyak warung penjaja makanan, jadi kita tak perlu kuatir kelaparan di gunung, solusinya cuma satu, bawa uang cash yang cukup.
• masalah persediaan air, di setiap pos sangat melimpah, so kita tak perlu membawa air berlebihan dari basecamp. Tapi hati-hati dalam mengambil air untuk memasak.
• hal yang paling menjengkelkan dalam pendakian gunung ini adalah banyaknya pendaki alay yang buang hajat sembarangam, solusinya ikuti jalur mobil penambang belerang, jangan ikut jalur potongan. Kalaupun mau mengikuti jalur potong, pilih jalur yang jelas, karena biasanya jalur-jalur tikus banyak ranjaunya.
• dan masalah BAB sembarangan di gunung ini menurut saya ini yang paling sadis dibanding gunung-gunung pada umumnya, bahkan di pos Pondokan (yang notabine hulu mata air), di pos ini aliran sungai yang seharusnya bisa dimanfaatkan malah menjadi tercemar karena ulah para pendaki yang tidak beretika, kotoran manusia berserakan dimana-mana. Solusi, jika hendak mengambil air usahakan ambil dari selang air, jangan sekali-sekali ambil air dari aliran sungai, karena kita tidak tau apa yang terjadi di atas aliran air tersebut.
• waktu tempuh dari pos Pondokan ke puncak Welirang membutuhkan waktu sekitar 3 jam, jadi sebaiknya berangkat start muncak pukur 02.00 dini hari. Jangan berpatokan pada peta yang banyak beredar di internet, karena akurasi waktunya sangat tidak tepat.
• mungkin jalur dari basecamp ke pos Pondokan kita bisa menggunakan sandal karena jalurnya memang jalur mobil, namun trek menuju puncak Welirang cenderung berpasir dan sangat ekstrim, memakai sepatu gunung hukumnya wajib.
• pos Lembah Kidang sangat nyaman untuk mendirikan tenda, tapi usahakan tetap kondusif, karena disini kadang masih terdapat rusa atau kijang yang sedang mencari makan.
• pos Lembah Kidang ke puncak Arjuna melewati jalur semak belukar yang banyak percabangan yang kadang membingungkan, jadi kita dituntut kewaspadaan Agar tidak tersesat dan berkutat diarea Lembah Kidang.
• puncak Arjuna tergolong curam dan dikelilingi jurang yang menganga, jadi saat di puncak hendaknya tetap fokus dan jangan berfoto-foto yang terlalu ekstrim demi keselamatan diri kita.
• yang terakhir, sampahmu adalah tanggung jawabmu, so menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan hukum wajib.

****

Demikian ulasan tentang jalur pendakian gunung Arjuna dan Welirang berdasar pengalaman kami, semoga dapat membantu buat teman-teman semua sebelum melakukan pendakian.

Selamat Mendaki...!!!

****************************************



Thanks for reading & sharing Ahmad Pajali Binzah

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

recent posts