Home » , , , , » [Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit #4

[Cerpen] Tersesat di Jaman Majapahit #4

Episode (4/10) 
Sejarah kota Surabaya.
Untuk awal cerita KLIK DISINI

Ini adalah petualangan terbesarku, yang akan menyusuri bumi Jawa Dwipa dari pusat kerajaan Majapahit hingga ujung barat tanah Jawa yaitu kerajaan Sunda Galuh.

Saat melangkah keluar dari gerbang ibu kota, rasanya jiwa petualanganku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang mengiringi kuda yang aku tunggangi memacu langkahnya menderu menyusuri jalan besar penghubung ibu kota dan pelabuhan raya di pesisir utara, Surabaya.

Ini adalah perjalananku, ini adalah kisah hidupku...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan.

****

Setelah memacu kuda ku begitu lamanya aku pun istirahat disuatu pasar yang cukup ramai, aku berhenti di warung untuk sekedar istirahat dan mengisi perut, juga sambil membiarkan kuda-kuda yang kami tunggangi memakan rumput dan tak lupa aku membeli garam dan gula aren untuk menambah stamina kuda-kuda kami.


"Kalau boleh tau, ini pasar apa yaa kek...??? Sejak dari Trowulan aku rasa ini pasar yang paling ramai sepanjang perjalanan kami...
Disini juga masyarakatnya sangat maju banyak rumah-rumah dan penginapan yang sudah tertata rapi...???" tanya Wingsanggeni pada warung sambil melahap makannya.

"Ini pasar Mojokerto nak, daerah paling strategis untuk transit dan istirahat karena ini memang daerah pertengahan antara Trowulan dan pelabuhan Surabaya, daerah ini memang ramai karena ini tempat transit para saudagar dan para petinggi kerajaan yang sedang lalu lalang di jalur perniagaan dan jalur utama.
Disini juga ada dermaga ditepi sungai Brantas, para kapal-kapal dagang dan kapal kerajaan sering istirahat disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan..." jawab kakek pemilik warung sambil mengaduk wedang jahe rempah pesanan kami.

"Ooohh pantesan daerah ini sungguh sangat maju dan berkembang, masyarakatnya juga sangat makmur..." jawab Wingsang Geni mengiyakan.

"Iya nak, ini berkat kemajuan dan perkembangan yang pesat dari kerajaan majapahit...
Ini nak diminum wedangnya, biar menambah stamina dalam perjalanan kalian...
Ngomong-ngomong kisanak ini dari mana mau kemana...???
Dilihat dari postur kalian, kalian pasti bukan orang sembarangan..." tanya kakek sambil meletakkan dua gelas wedang disamping kami.

"Aaahh kami pemuda biasa kek yang sekedar ingin jalan-jalan saja.." jawabku mencoba menutupi identitas kami.

"Tapi keliatannya tubuh kalian kekar-kekar, seperti prajurit saja...???" kakek itu mencoba bertanya lagi.

"Aahh itu karena kami sering bekerja di sawah membantu orang tua kami saja kek..." jawab Wingsang mengalihkan.

"Iyaa benar kek, hehhee..." aku pun mengiyakan ucapan wingsang.
"Oohh iyaa kek, disini kira-kira dimana yaa kami bisa bermalam...???" tanya Wingsang mengalihkan pembicaraan.

"Masalah losmen atau penginapan jangan kuatir nak, disini tempatnya para musyafir beristirahat. Jadi mau yang mahal atau mau yang paling murah banyak tersedia disini, kalau di sebelah sana, kebanyakan diisi oleh orang-orang berjubah dan berjenggot panjang, banyak yang bilang mereka itu saudagar dari tanah arab, sementara losmen yang di sebelah sana kebanyakan diisi oleh para saudagar dari kulit kuning yang bermata sipit, dan sebelahnya kebanyak dari tanah Hindustan...
Kalau yang di depan sana yang paling spesial adalah asrama yang dibuat khusus untuk menginap para abdi negara, entah itu keluarga istana atau prajurit, yang jelas komplek itu khusus untuk orang-orang kerajaan yang ingin beristirahat dalam perjalanannya...
Dan biasanya dari mereka semua banyak yang berkumpul disini untuk makan malam, mereka sangat akur walau berasal dari latar belakang dan negara yang berbeda..." jelas kakek itu panjang lebar.

"Aahh berarti kalau aku tunjukin tanda anggota prajuritku, aku bisa menginap di komplek depan sana, waahh keren niihh..." ucap hatiku berbungah-bungah.


"Jadi rencana kalian nanti akan menginap dimana nak...??? Kalau kalian tidak banyak uang, boleh kok menginap disini dengan cuma-cuma..." kakek itu menawarkan warungnya untuk kami tumpangi.

"Aaahh iya juga, kalau aku menginap disana pasti identitasku akan ketahuan oleh warga disini, dan juga didalam sana kami pasti diintograsi tujuan apa kami melakukan perjalanan ini, sementara saat ini ibu kota masih dalam keadaan genting..." ucap hatiku bimbang.

"Gimana nak...??? Kenapa kalian hanya melamun saja...???" ucap kakek itu lagi.

"Eee baik kek, kami menginap disini saja, sekalian kami bisa lebih banyak mendengar cerita dari kakek, sekalian kami memang suka yang gratis-gratis kek hehee..." jawabku nyleneh.

Paginya saat matahari memancarkan sinar jingganya yang menyinari dedaunan dan menghangatkan suasana di pagi ini setelah diguyur hujan semalam.
Aku dan Wingsang sudah terbangun dan sarapan dengan menu khas masakan kakek yang baik hati.

"Baik kek maturmuwun atas tumpangannya pada kami, kami sangat berhutang budi pada kakek..." ucap wingsang pamit.

"Hahaha.. tak mengapa nak, aku malah senang bisa mengenal kalian...
Lanjutkanlah perjalanannya, semoga perjalanan kalian menyenangkan...
Oiya untuk ke kota Surabaya silahkan mengikuti jalan ini saja, karena jalan ini merupakan jalan raya utama yang jalurnya mengikuti alur pinggir sungai Brantas yang akhirnya akan menuju pelabuhan Surabaya..."

"Baik kek makasih banyak... hia, hia, hiaaaa..." aku dan Sahabatku Wingsang Geni kembali memacu kuda dengan semangatnya.

***

Pagi itu setelah sarapan dan pamit pada kakek pemilik warung kami berdua melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang menjulur dari ujung selatan ke ujung utara, mengikuti kelok alur sungai Brantas, jalan ini jalan terbesar yang menghubungkan ibu kota Trowulan dengan pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir Surabaya.

Hutan dan ladang pertanian kami lewati silih berganti, jika malam kami harus menginap di rumah warga kadang jika kemalaman di hutan kami harus tidur dengan bivak seadanya.

Sesekali kami menjumpai rombongan para saudagar yang membawa barang dagangan seperti kain sutra, tembikar dan barang-barang dagangan lain yang diangkut dengan pedati, menuju ibukota Trowulan.


Sementara banyak juga hasil pertanian dan rempah-rempah yang diangkut menuju pelabuhan untuk dijual ke negeri seberang.
Karena pada masa ini, Majapahit sebenarnya masih dalam masa keemasan. Sepanjang perjalanan sering aku jumpai warga dengan wajah yang sempringah dan bersinar menandakan era kemakmuran di negeri Majapahit.

***

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di kota terbesar kedua di negeri Majapahit, yaitu Surabaya, kota di pesisir utara dengan pelabuhan terbesarnya, hiruk-pikuk perdagangan yang terkenal hingga ke belahan bumi yang lain.
Kota yang terkenal akan keberaniannya melawan bahaya, dan juga kota bersejarah tentang berdirinya kerajaan Majapahit itu sendiri.


Yaa, di kota inilah dahulu para leluhur Majapahit berperang mempertaruhkan nyawanya mengusir pasukan Tar-Tar dari Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit.
Bahkan hingga kini hari bersejarah itu ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya (31 mei 1293).


Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan itu yang datang dari laut digambarkan sebagai SURO (ikan hiu/berani) sementara pasukan Raden Wijaya dari darat digambarkan Boyo (buaya/bahaya) yang digabung menjadi Suroboyo atau dengan kata lain mengandung arti berani menghadapi bahaya.

"Inilah Surabaya Sena, kota dengan seribu pesona dan sejarahnya...
Selamat datang di kota kebanggan kita Sena..." ucap Wingsang padaku tepat di pintu gerbang kota Surabaya.

"Yaa, aku sangat senang berada disini Wingsang...
Kita bisa bebas menjelajahi kota ini tanpa dibebankan tugas negara... hhahaha..." ucapku dengan wajah sempringah sambil memacu kuda memasuki kota Surabaya.

"Tapi ingat kawan, ada tugas besar di pundak kita untuk secepatnya mengantar surat wasiat ke negeri Sunda Galuh..." teriak Wingsang sambil memacu kuda mengejar aku.

"Hahahaa, tapi setidaknya kita bisa sekedar santai menikmati perjalanan ini kawan... hia, hia, hiaaa..." ucapku lagi sambi memacu kuda lebih kencang.

Rasanya bisa senang bisa mengilingi dan mengenal lebih dekat dengan kota ini, di sini serasa berada di daerah lain seperti bukan di negeri Majapahit, rumah-rumah dan bangunan disini tak semuanya berbentuk joglo, banyak rumah yang dibangun menyerupai adat dan khas daerah asalnya dari pemiliknya. Karena di kota ini sudah sangat homogen penduduknya, mulai dari kerajaan-kerajaan sekitar bahkan sampai dari benua yang berbeda. Banyak pendatang-pendatang dari India, Arab, China bahkan Madagaskar dan Afrika yang menetap dan membentuk suatu komunitas disini. Namun semua hidup rukun harmoni dan selaras dengan budaya Majapahit.


Di kota ini aku juga merasakan nuansa yang sudah lama aku tak merasakannya lagi, yaa suara adzan yang berkumandang mengingatkanku pada zamanku, dimana Islam sudah menjadi agama mayoritas di nusantara ini. Tapi disini di zaman ini aku mulai merasakan kehadiran ajaran ini sudah mulai mewarnai kehidupan di bumi nusantara.
Yaa Islam dimasa ini sudah mulai berkembang di pesisir dan mulai menyebar ke bagian hulu. Di Surabaya ini nuansa islami sudah mulai kental mewarnai sendi-sendi kehidupan kota.


Hampir 60% penduduk Surabaya beragama Islam. Karena di sini selain penduduk lokal, banyak pendatang dari Arab, China, India yang mayoritas membawa dan mengajarkan agama Islam.
Dan keberadaan ini bukan tidak diketahui oleh petinggi kerajaan, namun memang konsep Majaphit dan leluhur masyarakat Jawa yang pada umumnya lebih terbuka dan menjunjung tinggi sikap toleransi.

****

Setelah berjalan menyusuri keramaian kota, akhirnya aku dan Wingsang sampai di pesisir pantai.

"Aaahh rasanya senang sekali bisa melihat pantai, udara yang semilir ini mendamaikan hati rasanya Wing..." ucapku pada Wingsang sambil menatap ke arah laut lepas dengan rambut panjangku melambai-lambai tertiup angin.

"Yaa, sebagai abdi dalem kita memang jarang ditugaskan keluar ibu kota, jadi pamandangan pantai seperti ini rasanya sangat menyenangkan..." jawab Wingsang sambil menuntun kudanya berjalan ditepi pantai.


"Oh iyaa Wing, ayo kita kesana karena kita sudah cukup lama bersantai-santai disini..." ajakku pada Wingsang sambil menunjuk arah Pelabuhan.

"Baiklah ayo kita kesana..." jawab Wingsang bersemangat.

Dan kami pun kembali memacu kuda menuju dermaga pelabuhan melewati tepian pantai. Nampak juga dari kejauhan para kapal-kapal Besar yang lalu-lalang di laut lepas. Di pelabuhan juga nampak kapal-kapak yang sedang bersandar bongkar-muat barang-barang dagangan.


"Inilah pelabuhan Surabaya Sena... pelabuhan paling ramai senusantara... disinilah pintu gerbang Majapahit dengan dunia luar..." jelas Wingsang dengan wajah berbinar.

"Yaa, dari sinilah Majapahit melebarkan sayapnya hingga seantero Nusantara..." akupun mengiyakan.

Pelabuhan ini sangatlah luas, banyak dermaga dengan kesibukan yang berbeda-beda. Ada dermaga khusus untuk kapal dagang Nusantara, ada dermaga khusus untuk kapal dagang antar benua, ada dermaga untuk angkutan orang yang ingin berlayar, bahkan ada dermaga khusus untuk kapal kerajaan yang siap untuk mengangkut pasukan perang.


"Ayoo Sena kita segera cari kapal yang siap mengantar kita berlayar ke kerajaan Sunda Galuh..." Wingsang mengajakku mencari kapal.

"Tapi tunggu dulu Wing, apa kita harus menempuh jalur laut...???
Apa gak bisa perjalanan ini ditempuh lewat jalur darat saja...???" tanyaku menolak.

"Jalur laut jauh menghemat energi, waktu dan biaya Sena...
Sebagai prajurit, menghemat energi jauh lebih penting dari pada memilih jalur lain yang belum tentu hasilnya dan penuh resiko.. karena dalam perjalaanan ini, kita tidak tau bagaimana sambutan kerajaan Pasundan nanti, apakah mereka bisa menerima kita ataukah perang yang mereka tabuhkan untuk kita...
Jadi dalam hal ini menghemat energi jauh lebih baik..." Wingsang mencoba menjelaskan.

"Tapi coba banyangkan, apa gunanya kakek Sasora memberi kita kuda ini, apa gunanya kakek Sasora memberikan kita keris untuk senjata, apa gunanya kakek memberikan kita uang yang cukup banyak kalo toh kita hanya diam sambil bersantai di dalam kapal...???
Apapun resiko diperjalanan nanti, baik itu rampok, penguasa lokal, bahkan sungai besar tanpa jembatan pun aku siap menghadapi... karena hakekatnya perjalanan ini perjalanan pengembaraan..." aku menjelaskan dengan nada tegas.

"Baik kalau itu maumu Sena, aku sebagai sahabat dan orang yang ditugaskan kakek Sasora untuk mendampingimu, siap untuk selalu ada dalam perjalananmu..." jawab Wingsang sembari menganggukan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan ini lewat jalur darat, kita susuri jalan besar ataupun jalan setapak, kita seberangi sungai walau tanpa jembatan, kita hadapi aral yang melintang, kita tunaikan tugas kita hingga di negeri Sunda Galuh...!!!
Percayalah, dari perjalanan ini kita akan menemukan pembelajaran hidup yang lebih berarti...
Rawe rawe rantas, malang malang putung...!!!!" ucapku penuh semangat.

Tak perlu menunggu lama, aku dan sahabatku Wingsanggeni memacu kudanya dengan semangat untuk menelusuri jengkal demi jengkal tanah Jawa menuju negeri Sunda Galuh.

****

Yaa, ini adalah petualnganku, inilah cerita hidupku...
Akan aku isi cerita ini dengan indah dan berarti...
Karena aku yakin, perjalanan ini akan terus berjalan...


============ BERSAMBUNG ============


 Untuk kisah selanjutnya KLIK DISINI




Episode 4 sampai 7 menceritakan tentang sejarah berdirinya kota-kota di Jawa,
Jika ingin melewati sejarah dan kisah perjalanannya silahkan klik langsung ke inti cerita di episode 8 KLIK DISINI

Thanks for reading & sharing Ahmad Pajali Binzah

Previous
« Prev Post

3 comments:

recent posts