Info Lengkap dan Foto-foto Keindahan Curug Bidadari, Batang


Curug Bidadari, atau biasa disebut curug Batu Dinding Kolam Lima, karena di sekitar air terjun ini terdapat lima ceruk aliran air yang menyerupai kolam renang, yang sering digunakan untuk mandi dan berenang, mulai yang dangkal sampai yang kedalamannya belum terukur. Dan juga disisi kanan kirinya terdapat batu tebing yang tinggi menjulang.

Dan memang kelebihan dari curug ini adalah untuk berenang, karena jika dilihat dari ketinggian air terjunnya tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan curug-curug pada umumnya, tapi wanawisata ini memang tidak sekedar untuk dilihat pemandangannya saja, tapi untuk dinikmati kesegaran dan kejernihan airnya. Yaitu pengunjung kurang afdol kalo datang kesini tidak menikmati serunya berenang dikolam alam ini.

Secara geografis dan administratif curug ini masuk dalam wilayah Pekalongan, tepatnya di desa Purbo Jolotigo, kecamatan Talun, kabupaten Pekalongan. Karena setelah kita menyeberangi sungai, di sepanjang jalur tersebut sampai di titik air terjun, kita berada di sisi sebelah kanan sungai yang artinya kita sudah berada di wilayah kabupaten Pekalongan.
Tetapi karena pintu masuk ke lokasi wisata ini dari desa Silurah, kecamatan Wonotunggal, kabupaten Batang dan dikelola oleh warga setempat jadi curug ini lebih populer disebut curug Bidadari Batang.

Bisa dimaklumi setiap batas administrasi suatu daerah memang biasanya menggunakan sungai sebagai patok batasnya, dan air terjun memang lokasinya pasti disungai. Jadi sah-sah saja jika suatu lokasi air terjun masuk kedalam dua wilayah admisistrasi yang  berbeda.

Dan terlepas dari masalah batas wilayah, saya disini tidak untuk membahas masalah itu, tapi untuk menganjak temen-temen bertualang menikmati kesegaran berenang di curug Bidadari.

Yuukk kita mulai perjalanannya...
Untuk menuju lokasi wisata ini jika dari arah pantura jika dari barat setelah melewati kota Pekalongan, tepatnya di Perempatan Grogolan, kita ambil kanan kearah selatan menuju pasar Warung Asem.
Jika kita dari arah timur setelah sampai di alun-alun Batang kita bisa ambil kiri kearah selatan menuju pasar Warung Asem.

Dari Warung Asem kita masih lurus terus ke selatan sampai di pasar  Pandan Sari (Ndansari), dari sini kita bisa lurus via jalur Wonotunggal lewat jalan raya Bandar atau belok ke kanan via jalur Talun lewat jalur alternatif.

Di sepanjang jalan setiap persimpangan jalan banyak plang petunjuk arah jadi jangan takut tersesat alias nyasar, atau kalau ingin aman, tanyakan saja pada penduduk setempat insya'Allah semua pasti tau. Yang terpenting patokannya tujuan kita adalah desa Silurah, kecamatan Wonotunggal, kabupaten Batang.
Karena pintu masuk lokasi wisata ini dari desa Silurah.

Karena rumah saya di dukuh Kedolon, desa Jrebeng Kembang, kec. Karangdadap, kab. Pekalongan, jadi start perjalanan dimulai dari sini.

Jika kita melewati jalur Talun, kita akan menemui banyak plang petunjuk jalan, ambil ke arah Bandar.

Jika kita sudah melewati gerbang desa Sodong berarti sekitar 5km lagi kita akan sampai di desa Silurah.

Keadaan jalan dengan aspal mulus

Gerbang desa Silurah

Kalau kita sudah memasuki gerbang desa Silurah, sekitar 2 km kita akan menjumpai gang di sebelah kanan jalan, dengan gapura bertuliskan "Situs Sejarah Patung Ganesha, dan air terjun Kalirogno"
Air terjun yang tertera memang bukan curug Bidadari, tapi curug Kalirogno karena memang yang ditemukan lebih dulu curug Kalirogno.
Setelah itu kita memasuki gang tersebut sekitar 1 km dengan jalan yang agak rusak kita akan nenemui pertigaan lokasi wisata dengan papan Selamat Datang.
Jika dihitung total waktu tempuh dari pantura sampai disini, memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang (±50km/jam).


Gapura menuju lokasi wisata

Narziss duloe...

Pertigaan menuju patung Ganesha dan air terjun, disini para pengunjung dipungut tiket masuk.

Tiket masuk, harga tiket Rp 5000/motor sudah termasuk parkir dan tiket masuk untuk dua orang.

Papan selamat datang


Dari papan Selamat Datang ini kita masuk jalan berbatu menyusuri hutan pinus dan hutan kopi sekitar 10 menit. Barulah kita akan sampai di area parkir, di area parkir ini sebagai titik awal jalur setapak menuju air terjun. Disini juga terdapat warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman.


Jalan berbatu menuju area parkir

Seperti biasa, gak lupa tetep eksiZz... :p


Area parkir, foto diambil saat pertama masuk area parkir ujung timur

Deretan motor yang terparkir, foto diambil dari ujung bagian barat

Deretan motor dengan background warung-warung jajanan

Istirahat dulu di warung

Jam operasional


Dari area parkir perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan setapak yang menuruni punggunggungan. Turunan yang terjal ini jika perjalanan kembali akan menjadi tanjakan yang menguras tenaga, jadi persiapkan fisik yang fit dan sebugar mungkin.

Setelah menuruni jalur sekitar 10 menit kita akan bertemu sungai kecil. Mungkin aliran sungai ini di atasnya terdapat curug Kalirogno, tapi menurut pemikiran saya, aliran airnya saja sekecil ini, bisa kebayang bagaimana air terjunnya, jadi untuk perjalanan kali ini kami putuskan untuk menuju curug Bidadari saja.


Awal treking

Jalur setapak melintas ditengah hutan

Sungai pertama yang harus diseberangi


Setelah melewati sungai kecil, kita akan menjumpai plang petunjuk arah, antara ke kiri ke curug Kalirogno dan ke kanan ke curug Bidadari.
Dan dari plang ini juga situs bersejarah Patung Ganesha sudah terlihat.


Plang petunjuk, jika kekiri ke curug Kalirogno, jika kekanan ke curug Bidadari, nampak background patung Ganesha

Situs sejarah purbakala, patung Ganesha


Dari patung Ganesha perjalanan dilanjutkan tetap menyusuri jalan setapak melewati jalan datar lalu menyeberangi sungai besar, dan sungai inilah yang diatasnya terdapat curug Bidadari.
Jadi setelah menyeberang sungai ini, jalurnya cenderung melipir punggungan mengikuti kelok aliran sungai ini.


Sungai kedua yang harus diseberangi

Menyeberangi sungai, jika musim penghujan tentu debit airnya akan lebih besar, jadi harus hati-hati.
Setelah menyeberangi sungai ini, sebenarnya kita telah memasuki wilayah Pekalongan. 

Selfi duloe biar kekinian, BINZAH BROTHER... hehehee...

Setelah menyeberangi sungai, ada plang petunjuk arah

Keadaan hutan yg masih asri, karena sejak melewati gapura kita tidak melewati pemukiman penduduk

Jalur yang jelas dan bersih, karena banyak para pemanen bambu yang selalu membersihkan jalur jika ada ranting yang melintang dijalur.

Setelah melewati sungai kedua, jalur cenderung datar karena melipir mengikuti aliran sungai.

Tetep kompak saat berjalan, foto diambil saat perjalanan pulang

Sepanjang jalur menuju curug Bidadari vegetasi didominasi tumbuhan perkebunan, seperti karet, cengkeh, kopi dan bambu. Tapi saat kita sudah melewati hutan bambu dan sudah bertemu orang-orang yang sedang memanen bambu, itu artinya beberapa langkah lagi kita sudah sampai di curug Bidadari.
Setelah sempet ngobrol dengan para pekerja disana, bambu itu setelah dipotong langsung di rajang tipis-tipis agar mudah membawanya, dan katanya bambu tersebut akan digunakan untuk industri rumahan untuk pembuatan tampah, ceteng (tempat nasi), capeng (topi sawah) dan kerajinan-kerajinan anyaman lain.


Aktifitas pemanenan bambu


Setelah melewati tempat pemanenan bambu, kita langsung disuguhi aliran sungai yang airnya sangat jernih, nampak kehijau-hijauan dan alami.
Banyak cerukan-cerukan mirip kolam renang yang biasa digunakan untuk berenang.
Total waktu tempuh dari area parkir ke curug ini sekitar 20 menit berjalan kaki.


Cerukan pertama

Cerukan berikutnya, beberapa cerukan tidak saya foto karena saking asyiknya bermain air


Dari pertama memasuki cerukan, tidak ada jalur khusus kecuali melintas di batu dan menyeberangi cerukan tersebut, karena sepanjang aliran air ini kiri kanan terdapat dinding tebing.

Setelah melewati empat cerukan, kita akan sampai di cerukan utama yang dalamnya tak terukur (nyoba nyelem tapi kaki gak nyampe2 ke dasarnya, pokoknya dalam banget)

Dan disini bukan tempat untuk bersantai-santai dan menikmati pemandangan, jadi jangan harap kita akan disuguhi pemandangan air yang tercurah dari ketinggian belasan meter, atau angin yang terhembus dengan butir-butir air yang terhempas, atau juga suara derunya air khas air terjun pada umumnya.
Eitz... Jangan kecewa dulu, karena disini surganya buat yang hoby maen air, mandi dan berenang.
Dijamin lebih seru dan berkesan...

Jadii yuukk langsung nyebur aja kedalam air...!!!
Nikmati kesegarannya lewat foto-foto dibawah ini...
Cikidooottt...
































Kesimpulan:
Kelebihan
* Airnya sangat bening, jernih dan dinginnya yang tidak terlalu beku, jadi mandi disini dijamin sangat menyegarkan.
* Lokasinya yang terpencil, jadi keasrian alamnya masih terjaga.
* Obyek wisata baru, otomatis belum semua orang pernah kesini, dijamin punya kebanggaan tersendiri saat berkunjung ke tempat wisata ini, dan nenurut info, penarikan tiket masuk dan area parkir baru dibuka sekitar sebulan yang lalu, sebelumnya jika kesini motor diparkir tanpa penjagaan.
* Harga tiket masuk yang relatif murah, dan penjagaan yang baik, petugas parkirnya yang berseragam batik yang terkesan terkoodinir dengan baik, otomatis kita gak perlu was-was lagi saat meninggalkan motor kita. Karena obyek wisata ini masih dikelola oleh penduduk setempat.
* Penyewaan ban sebagai pelapung yang relatif murah, Rp 5000/pcs tanpa batasan waktu.
* Jalur yang jelas dan banyak plang petunjuk jalan, jadi gak perlu takut tersesat di hutan.

Kekurangan
* Lokasi yang terpencil dan tidak ada angkutan umum, jadi untuk kesini wajib menggunakan kendaraan pribadi. Buat backpacker yang biasa melancong dengan angkutan umum, mungkin perlu ngerental motor atau nyari temen buat bisa diajak bertualang bareng.
* Jalur trek menuju curug melintasi pegunungan, otomatis membutuhkan energi dan stamina. Dibutuhkan kondisi tubuh yang fit dan jangan lupa olah raga beberapa hari sebelumnya.
* Kurangnya fasilitas, karena lokasi wisata ini masih baru jadi jangan harap ada fasilitas yang memadai, seperti toilet, kamar mandi bilas dan tempat ganti baju, tempat sampah, saung untuk berteduh, pembatas/pengaman jalur, petugas yang memantau, DLL.
* Karena disini tidak ada tempat ganti baju, otomatis bagi pengunjung wajib membawa sarung untuk penutup saat mengganti baju basah.
* Tidak terdapat warung makan permanen di titik lokasi wisata, jadi untuk mengantisipasi perut lapar saat sehabis berenang, pengunjung wajib membawa bekal makanan sendiri.
* Karena wanawisata ini dikelola masyarakat setempat, jadi tidak ada tiket masuk yang resmi dan jaminan asuransi.

Sebagai masukan kepada pengelola:
Harap sediakan tempat sampah, toilet/kamar ganti, pembatas jalan di jalur yang extrime di tepi jurang, dan tempatkan petugas di titik lokasi wisata untuk menjaga dan memantau pengunjung untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan.

Demikian ulasan saya tentang perjalanan ke curug Bidadari, Batang.
Ulasan ini saya tulis dalam rangka memajukan potensi wisata alam, terutama di daerah dekat tempat tinggal saya, bukan untuk mengajak anak-anak alay yang datang hanya untuk mengotori alam saja.
Jadi bagi sobat-sobat yang ingin berkunjung ke lokasi curug Bidadari ini wajib menjaga kelestarian alam disana dan jangan lupa sampah wajib dibawa kembali, jangan dibuang sembarangan...!!!!
Terimakasih...

SELAMAT BERTUALANG...!!!

======================================


Thanks for reading & sharing Ahmad Pajali Binzah

Previous
« Prev Post

36 comments:

  1. Mantap mas. Besok rencana ke sana start kedunguan. Bisa jelaskan rute dari kedunbwuni sampai ke curug itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari pasar Kedungwuni ke timur menuju perempatan Karangdadap, masih terus ke timur sampai ke desa Guntur dan menyeberang jembatan sasak dan terus sampai di pasar Ndansari, dari pasar Ndansari belok ke kanan menuju Talun, lurus terus sampai di pertigaan menuju Sengare ambil kiri menuju Bandar...
      Pokoknya ikuti jalan terus aja sampai di desa Silurah.
      Atau tanya saja pasti banyak yang tau... hehheee...

      Delete
  2. Salam kenal mas, saya blogger asal kesesi pekalongan, rencana besok pengen ke curug bidadari., kira2 kalo dr kesesi sampe tkp berapa jam ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jg sist...
      Perjalanan kmrn saya dari Kedungwuni Timur memakan watu sekitar 2jam jalan santai bareng rombongan...
      Jadi kalo dari Kesesi jalurnya:
      Kesesi - Kajen - Karang Anyar - Doro - Talun.
      Otomatis jalurnya membentuk satu garis lurus yang tentunya walau jarak tempuh lebih jauh tapi akan mempersingkat waktu tempuh...
      Jadi kemungkinan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam juga...

      Oiya sekedar mengingatkan, disana blm ada tempat sampah, jadi jangan lupa sampah dibawa kembali ke area parkiran yang disana sudah ada tempat sampah... hehhee...

      Delete
  3. Biasa otok opo ora tergantung perasaan hati...
    Berarti sampean kesana lg dalam rangka galau utowo patah hati... yoo jadine hambar raa...

    Coba kesana ajak temen2 akrab lu, atau bareng keluarga tercinta, dan mandi berenang bareng2 disana... dijamin pasti seruu...

    ReplyDelete
  4. aaloooww..salam kenal dari blogger Talun.
    sebagai wong Talun malah tahu ini dari instagram lho. semoga segera dikelola Pemda seperti Petung ya Mas.
    dan apa artinya Pemda tanpa kita para wisatawan ikut nguri-uri.
    tetap berwisata dengan santun, safety, dan ceria.

    * Pekalongan Negeri 1001 Curug

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semoga saja pemda segera merespon, dan membuat akses yang lebih mudah dari jalur Talun...
      Kalo perlu bersinergi dengan kab. Batang dalam sistem pengelolaannya agar mampu membawa kebaikan bagi kita semua...

      Semoga kita sebagai warga sekaligus wisatawan, khususnya Pekalongan makin bangga pada kabupaten kita tercinta... hehee...

      Delete
  5. Wow... Sangat membatu broo...
    Terima kasih...

    ReplyDelete
  6. Wow... Sangat membatu broo...
    Terima kasih...

    ReplyDelete
  7. Waah kalau pulang kampung ke Wonotunggal mau maen kesini ah, bagus tempatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...
      Iya bro, disana sangat menyenangkan...
      Ditunggu curug Bidadari tuch... hehehee...

      Delete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Ijin Share mas, sy anak Tangkil Kulon

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yupz silahkan bro...
      Boloku jg akeh dek Tangkil Kulon bro...

      Delete
  10. Sorry mau tanya nih, kalau dari serang (banten) menuju ke curug bidadari kira2 berapa jam perjalanan yah??.

    ReplyDelete
  11. Sorry mau tanya nih, kalau dari serang (banten) menuju ke curug bidadari kira2 berapa jam perjalanan yah??.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf yg dimaksud curug Bidadari mana yaa...???
      Coz curug yg saya ulas ini curug Budadari di daerah Pekalongan Jawa Tengah...
      Kalo dari Banten membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam perjalanan...
      Tapi kalo yg dimaksud curug Bidadari Sentul Bogor mungkin membutuhkan waktu cuma 2 jam perjalanan via tol...
      Mksh, semoga bermanfaat...

      Delete
  12. Artikelmu membantu mas.. Tapi sekiranya di kasih rute rute yang paling parah mas.. Biar kalo ada yang kesana gak kecewa banget..

    ReplyDelete
  13. Replies
    1. Di pertigaan ditarik tiket masuk 5rb/motor, itu sudah termasuk tiket masuk 2 orang + parkir motor...
      Jadi 5rb itu sudah gak ada pungutan lagi, parkir juga udah gratis..

      Delete
  14. gan mau tanya nih..
    dicurug bidadari wonotunggal batang disana boleh ngecamp/bermalam mendirikan tenda gak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinannya boleh, coz disana belum ada pengelolaan yg ketat...
      Cuma masalahnya di titik air terjunnya terlalu sempit dan ky'nya susah untuk mencari tempat untuk ngecamp...
      Berbeda dengan Curug Bajing yg sudah ada tempat spesial buat bgecamp (camping ground)

      Delete
  15. Subhanallahh...tempat na bagus asri. baru tau kabupaten Pekalongan punya lokasi wisata yg TOP juga.
    Mantap mas !

    ReplyDelete
  16. makasih infonyaa gan..


    Nonton Film Online Subtitle Indonesia Terbaru Download Film Gratis Nonton Movie Serial Tv Drama Korea

    ReplyDelete
  17. ASik banget tuh, coba review curug di pemalang ane warga pemalang biar bangga juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok, insa'Allah habis lebaran ini mau explor ke Pemalang... sekalian ke gunung Slamet juga...
      Ditunggu aja reviewnya... :)

      Delete
  18. Kalau ke curug bidadari pake travel bisa nggk ya?

    ReplyDelete
  19. Hari kamis sore tgl 15 sept '16 aku ke curug itu. Start dr alun2 kajen jam 2 siang. Via doro, talun, batursari, sengare, jolotigo. Sampai di desa sengare jam 14.45 wib. Isi bbm dan makan dulu di sekitar pertigaan desa sengare. Setengah jam istirahat kmd lanjutin ke curug. Smp desa jolotigo sekitar 20 menitan. Krn jalanx dh mentok bebatuan akhirx titip motor di rmh warga. Krn baru ujan. Jd licin. Klw yg berani sih bs treking dg motorx menaiki jalur bebatuan. Disana ada parkiran motor. Tp krn licin ya kami gk berani treking. Smp di parkiran mtr ada byk pedagang. Jalan kaki smp tmp parkiran hampir 25 menit. Stlh smp parkiran sdh keliatan sungaix. Tapi masih harus turun lagi ampe ke curug. Aku mah gk kuat. Cuma smp sungaix aja... Hu hu hu... Capcay nian.... Suatu saat mo nyoba kesana lg dah... Insyaallah... Smg kuat... �� �� ��

    ReplyDelete

recent posts